Selama saya membina nelayan rakyat di wilayah Indonesia bagian timur, yaitu di daerah Majene (Mandar), Teluk Bone, Teluk Tomini<>
1. Berdasarkan pencarian schooling ikan :tuna
a di rumpon
b Tanda burung
c Adanya kelompok lumba-lumba
2. Berdasarkan dalmnya ruaya ikan tuna :
a Pada permukaan air,
b Pada lapisan kedalaman
3. Berdasarkan umpan yang dipakai :
a Umpan ikan :
① Hidup
② Mati
b Umpan tiruan
Dari pemilahan tersebut masih pula dibagi dalam cara penangkapannya berdasarkan kelompok daerah yaitu :
1. Kelompok Mandar
Kelompok Mandar menangkap ikan tuna dengan hand line biasanya dilakukan di sekitar rumpon laut dalam yang terbuat dari rotan yang dianyam, dan pelampungnya terbuat dari rakit bamboo yang diatasnya tardapat rumah yang dapat ditinggali, memancing dengan perahu kecil (cadik), walaupun sewaktu berangkat ke daerah penangkapan menggunakan perahu besar. Memancing menggunakan umpan hidup, menggunakan umpan buatan disertai penggunaan layang-layang. Melakukan penangkapan di permukaan terutama pada sore hari, bahkan mereka dapat memancing dari rakit rumpon karena tuna muncul di permukaan dekat rakit rumpon untuk mengejar ikan kecik yang berada disekitarnya.
Kelompok Mandar ini meliputi daerah penangkapan dimana nelayannya berasal dari daerah Sulawesi Selatan, Daerah Penangkapan kelompok Mandar adalah : 1). Majene, Donggala/Palu, Toli-toli hingga Minahasa Utara, Teluk Bone dan Teluk Tomini (Gorontalo)
2. Kelompok Ambon
Kelompok Ambon dimulain dari Latuhalat, Asilulu, Seram Selatan hingga ke Sorong, menangkap ikan tuna menggunakan hand line dengan cara melihat tanda-tanda burung, dan gerombolan cakalang, pada awalnya menangkap umpan hidup dengan menunda ikan pelagis kecil seperti tongkal, laying dan cakalang, setelah dapat umpan langsung di pakai sebagai umpan pemancingan ikan tuna di lapisan kedalaman hingga 60 meter, dengan cara menggunakan pemberat batu yang diikat menggunakan janur (daun kelapa), setelah dicapai kedalaman yang diinginkan, dengan sentakan batu pemberat akan terlepan. Disamping itu juga melakukan penangkapan di permukaan apabila gerombolan tuna muncul dipermukaan pada sore hari
3. Kelompok Banda
Keunikan cara penangkapan cara Banda adalah, mereka hanya mengandalkan adanya schooling lumba-lumba yang banyak di sekitar kepulauan Banda. Tuna beruaya bersama-sama dengan lumba-lumba. Biasanya tuna berada di bagian belakang lumba-lumba, dan berada pada kedalaman 20 hingga 50 meter. Tuna yang beruaya bersama-sama dengan lumba-lumba biasanya sangat agresif, sehingga nelayan Banda mempunyai istilah 1 ekor umpan hidup ahan mendapatkan 1 ekor ikan tuna
4. Kelompok Phillipina
Nelayan Phillipina (dari General Santos) menangkap di sekitar rumpon yang tersebar di Laut Pasifik Barat Daya, rumpon-rumpon tersebut adalah rumpon yang dimiliki oleh kapal penangkap pelagis kecil (cakalang) dengan menggunakan pure seine berukuran besar.
Menangkap pada kedalam hingga 120 meter, meggunakan umpan hidup atau mati Spesifiknya menggunakan umpan yang dibentuk seperti cumi-cumi dari ikan cakalang atau sejenisnya, kemudian diikatkan ke batu, bersama-sama dengan cairan tinta cumi-cumi, daging cakalang cincang diturunkan hingga kedalaman yang diinginkan, setelah itu dihentak maka daging cincang akan terburai, tinta akan tumpah dan umpan yang menyerupai cumi-cumi akan mengembang dan melambai.
Uniknya pada saat ikan memakan mumpan dan tersangkut mata kail, mereka masih mempunyai senjata pembunuh cepat yaitu semacam cairan tuba yang diikat secara unik dan akan tumpah pada saat mata kail termakan oleh tuna, langsung btuna akan mabuk sehingga ditarik ke atas dengan mudah tanpa banyak perlawanan’
Pada kenyataannya penangkapan ikan tuna dengan menggunakan hand line semua cara sudah dilakukan, sehingga sudah merupakan kombinasi penangkapan, sehingga hamper cara-cara tersebut di atas sudah dilakukan di semua daerah, dan mereka tetap mengatakan cara Phillipina lah, cara Mandar dengan ciri khas laying-layang lah, cara Banda dan sebagainya tergantung pada situasi dan kondsi saat itu mana yang memungkinkan termudah mendapatkan ikan.